image

Geografi Penduduk (UTS) ANALISIS KEPENDUDUKAN DI NEGARA FILIPINA

1.A clickable map of the Philippines exhibiting its 17 regions and 80 provinces.
       1. Deskripsi Pola Penduduk di Negara Filipina
Filipina merupakan salah satu Negara yang terletak di Asia Tenggara. Sebagai salah satu Negara berkembang, Negara ini memiliki ciri-ciri kependudukan yang sama dengan Negara-negara berkembang lainnya, yaitu tingginya jumlah penduduk. Menurut laporan jumlah Dana Kependudukan PBB (UNFPA), Filipina merupakan salah satu negara yang menempati posisi ke-12 dalam daftar negara terpadat di dunia dengan 94,9 juta penduduk pada tahun 2011.Pada tahun 2005, Filipina juga berada di urutan ke-12 di dunia dalam jumlah penduduk dengan jumlah 86,2juta penduduk.
Angka harapan hidup penduduk adalah 69,29 tahun; 72,28 untuk wanita dan 66,44 untuk pria. Pertumbuhan penduduk per-tahunnya rata-rata sebesar 2,1% dan sekarang Filipina sedang mengalami masalah kepadatan penduduk karena angka kelahirannya tinggi. Kepadatan penduduk di Negara ini adalah 276/km2.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Filipina Berdasarkan Sensus Penduduk dan Pendataan Penduduk lainnya

sumber :Biro Statistik Nasional Filipina (National Statistical Coordination Board of Philippine)

Tabel tersebut menunjukkan jumlah penduduk beserta rata-rata pertumbuhan penduduk tiap sensus dan SUPAS dilakukan. Pada awal tahun 1800 hingga 1940-an, sensus penduduk belum dilakukan secara berkelanjutan, sebab pada masa itu Filipina masih dijajah oleh Spanyol, Amerika Serikat dan kemudian Jepang. Sehingga, pendataan dilakukan berdasarkan kewenangan kolonial yang menduduki Filipin apada masa itu. Pada tahun 1948, Filipina merdeka, sehingga sensus penduduk pun dapat dilakukan secara rutin dan lebih efektif. Setelah kemerdekaan, Filipina melaksanakan sensus penduduk sebanyak 7 kali yaitu pada tahun 1948, 1960, 1970, 1980, 1990, 2000, dan 2010. Selain itu dilakukan pula SUPAS sebanyak 3 kali pada tahun 1975, 1995, dan 2007. Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa terjadi pertambahan jumlah penduduk yang cukup besar setiap tahun. Bahkan, Komisi Populasi Tomas Osias memprediksikan bahwa jumlah penduduk Negara Filipina akan mencapai 101,2 juta jiwa pada tahun 2014.
a.       Pola Fertilitas
Fertilitas merupakan taraf kelahiran penduduk yang sesungguhnya berdasarkan jumlah kelahiran yang terjadi. Pengertian ini digunakan untuk menunjukkan pertambahan jumlah penduduk. Fertilitas disebut juga dengan natalitas.
Tabel 2. Jumlah kelahiran, pertumbuhan penduduk alami, CBR, dan TFR periode 5
tahun
Sumber : World Population Prospects: The 2010 Revision, United Nations 182
Department of Economic and Social Affairs

Tabel 3.  Angka Kelahiran Kasar Penduduk Filipina Tahun 2000-2011
Sumber : CIA World Factbook

Berdasarkan Tabel 2. Jumlah kelahiran, pertumbuhan penduduk alami, CBR, dan TFR periode 5 tahun Negara Filipina menunjukkan bahwa selalu terjadi pertambahan penduduk hingga tahun 2005 dan mulai mengalami sedikit penurunan pada tahun 2010. Pada periode tahun 2000-2005 jumlah kelahiran hidup sebanyak 2.360.000 jiwa setiap tahunnya. Namun, pada periode berikutnya, yaitu periode tahun 2005-2010 jumlah kelahiran hidup menurun sebanyak 42.000 menjadi 2.318.000 jiwa. Meski penurunan tersebut tidak terlalu signifikan, namun hal tersebut mempengaruhi pola fertilitas di Filipina. Pertambahan angka kelahiran hidup tertinggi adalah saat periode 1975-1980 yaitu sebanyak 182 jiwa dari periode 1970-1975.
Nilai CBR (Crude Birth Rate) dan TFR (Total Fertility Rate) penduduk di Negara tersebut kian menurun setiap periodenya berdasarkan tabel 2. Hal yang sama juga terlihat pada tabel 3, dimana angka CBR menurun setiap tahunnya. Namun, terjadi lonjakan angka CBR pada tahun 2008 sebesar 26,42. Akan tetapi, angka tersebut menurun mulai tahun 2009 hingga 2011. Berdasarkan sensus penduduk terbaru tahun 2011, nilai CBR atau jumlah kelahiran pertahun di Filipina per seribu penduduk turun menjadi 25, 34. Meskipun nilai tersebut masih termasuk golongan angka CBR sedang, akan tetapi, nilai tersebut mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Selain itu, nilai TFR menurun sebanyak 4,15 dari periode tahun 1990-1995 sampai periode 2005-2010. Pada tahun 2011, nilai TFR menjadi 3,27. Artinya, kemampuan ibu untuk melahirkan hanya 3 anak dari 7 anak pada periode awal. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pola fertilitas Negara Filipina terus menurun apabila dilihat dari CBR atau angka kelahiran kasar dan TFR atau kemampuan wanita untuk melahirkan bayi.
a.       Pola Mortalitas
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu dari tiga komponen demografi selain fertilitas dan migrasi, yang dapat mempengaruhi jumlah dan komposisi umur penduduk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Angka mortalitas dibedakan menjadi 3 macam, yaitu angka kematian kasar (CDR), angka kematian khusus, dan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR).
Tabel 4. Angka kematian per Tahun, Angka Kematian kasar dan Angka Kematian  Bayi di Filipina Periode 5 Tahun 
Sumber : World Population Prospects: The 2010 Revision, United Nations 182
Department of Economic and Social Affairs

            Tabel 5. Angka Kematian Kasar (CDR) di Filipina Tahun 2000-2011


            Sumber : CIA World Factbook

            Tabel 6. Angka Kematian Bayi (IMR) di Filipina Tahun 2000-2011
             

            Sumber : CIA World Factbook

Berdasarkan Tabel 4, angka kematian per tahun di terjadi pada periode 2005-2010 yaitu sebanyak 528.000 jiwa mengalami kematian. Namun, apabila dilihat dari CDR (Crude Death Rate) beserta IMR (Infant Mortality Rate), justru pola mortalitas di Negara tersebut mengalami penurunan. Angka kelahiran kasar  atau CDR juga mengalami penurunan berdasarkan Tabel 5 yang berupa data CDR per tahun mulai dari tahun 2000-2011. Penurunan tersebut berkisar antara 0,4 hingga 0,9 tiap tahun. Nilai CDR pada tahun 2011 adalah 5,02. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 5 penduduk di Filipina meninggal dunia setiap tahun dari 1000 penduduk yang hidup. Angka tersebut digolongkan ke dalam tingkatan CDR rendah, sebab memiliki nilai kurang dari 10.
Tabel 6 juga menunjukkan bahwa angka kematian bayi atau IMR di Filipina mengalami penurunan hingga tahun 2011. Nilai IMR terbaru yaitu pada tahun 2011 sebanyak 19,34. Artinya, terdapat 19 bayi yang meninggal dunia setiap tahunnya dari 1000 bayi yang lahir hidup. Nilai ini diklasifikasikan ke dalam nilai IMR rendah, sebab kurang dari angka 35. Berdasakan data-data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pola mortalitas di Filipina mengalami penurunan setiap tahun dan setiap periode.
a.       Pola Pertumbuhan
Pertumbuhan penduduk yaitu angka yang menunjukkan tingkat pertambahan penduduk per tahun dalam jangka waktu tertentu dinyatakan dengan persen. Keadaan penduduk tumbuh, bila angka kelahiran lebih besar dari angka kematian. Atau jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh faktor-faktor kelahiran, kematian, dan migrasi yang terdiri atas emigrasi dan imigrasi.

            Tabel 7. Angka Pertumbuhan Penduduk Filipina Tahun 2000-2011
           
Sumber : CIA World Factbook









            Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Penduduk Filipina Tahun 2000-2011
Sumber : CIA World Factbook
                       
Pertumbuhan penduduk Negara Filipina pada tahun 2000 hingga 2007 mengalami penurunan. Angka pertumbuhan penduduk menurun 0,31 % dari tahun 2000  sebanyak 2,07 % menjadi 1,76 % pada tahun 2007. Namun, pada tahun 2008, pertumbuhan penduduk meningkat drastis sebanyak 2,3 % menjadi 1,99 %. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah penduduk di Filipina. Penyebabnya adalah adanya lonjakan angka kelahiran kasar pada tahun 2008 sebesar 26,42, sedangkan angka kematian kasar terus mengalami penurunan tiap tahun tanpa ada peningkatan pada tahun tertentu seperti angka kelahiran kasar. Hal itu mengakibatkan jumlah kelahiran lebih besar dari kematian, dan selisih antara jumlah keduanya sangat besar. Meskipun demikian, pertumbuhan penduduk mengalami penurunan mulai tahun 2009 hingga 2011 akibat penurunan angka kelahiran kasar. Terdapat pula faktor-faktor lain seperi migrasi masuk maupun migrasi keluar yang akan dibahas pada analisis. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pola pertumbuhan penduduk di Filipina mengalami penurunan.
2.      Analisis berdasarkan Kondisi Geografis, Sosial, dan Ekonomi
a.       Kondisi Geografis
Secara astronomis, Filipina terletak antara 6°LU – 19°LU dan 116°BT – 126°BT. Filipina terletak di bagian tenggara Asia, berhadapan dengan Provinsi Taiwan Tiongkok dan terpisah oleh selat di utara. Negara ini berhadapan dengan Indonesia dan Malaysia dan dipisahkan oleh Laut Sulawesi dan Selat Balak di bagian selatan dan barat daya. Sebelah timur Filipina adalah Samudera Pasifik dan di sebelah barat  berupa Laut Tiongkok Selatan. Filipina terdiri dari 7.107 buah kepulauan besar dan kecuk , dengan luas totalnya mencapai 299.700 kilometer persegi. Filipina merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri atas 7.107 pulau. Di antara jumlah pulau tersebut terdapat dua pulau yang besar yaitu Pulau Luzon (sebelah Utara) dan Pulau Mindanau (sebelah Selatan).
Berdasarkan letak lintangnya Filipina mempunyai iklim tropis (panas) yang dipengaruhi oleh angin monsun. Negara ini memiliki suhu udara, rata-rata curah hujan, serta tingkat kelembaban yang tingggi. Suhu udara rata-rata 27 derajat Celcius, curahan hujannya pertahun tercatat 2.000 sampai 3.000 milimeter.
Gambar 2. Peta Negara Filipina

Filipina merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak gunung api sebagai rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik. Kondisi tanah yang subur sangat menunjang kegiatan agraris yang meliputi bidang pertanian (berupa padi, jagung, dan abaca atau serat manila), bidang perikanan dan kehutanan (hampir separuh wilayah daratannya berupa hutan). Selain itu sungainya yang pendek-pendek dengan aliran deras dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Kondisi geografis dengan bentuk kepulauan, memiliki wilayah yang sangat luas, serta kondisi alam dan kandungan yang ada di dalamnya mempengaruhi unsure kependudukan di Filipina. Hal tersebut berpengaruh dalam distribusi penduduk dan juga banyaknya penduduk yang menetap di wilayah tersebut. Negara Kepulauan, seperti Filipina, ditambah wilayah yang luas umumnya memiliki jumlah penduduk yang banyak dan persebarannya tidak merata. Sebab, luas setiap pulau berbeda-beda. Sehingga, penduduk yang tinggal menyesuaikan dengan kondisi alam di pulau yang mereka tinggali. Kondisi geografis seperti itu berkaitan erat dengan kepadatan penduduk yang tinggi serta jumlah penduduk yang tinggi.
Dua pulau besar di Filipina yaitu Pulau Luzon dan Mindanau dicirikan dengan pegunungan tinggi dan dataran aluvial yang subur, sehingga banyak penduduk yang datang, terutama para imigran dari China, Amerika, dan Asia Selatan. Pulau-pulau kecil di Filipina juga memiliki topografi relatif datar, sehingga cocok dijadikan permukiman maupun lahan pertanian, sehingga semakin banyak penduduk yang menetap di Filipina.
Filipina dibagi menjadi sebuah hirarki Satuan Pemerintah Lokal (SPL) dengan provinsi sebagai satuan utama. Filipina dibagi 3 grup pulau yaitu Luzon, Visayas dan Mindanao. Kemudian dibagi menjadi 17 Region, 80 Provinsi, 120 Kota, 1.511 Munisipalitas dan 42.008 distrik. Seluruh provinsi dikelompokkan menjadi 17 Wilayah ('Region') untuk kemudahan administratif. Kebanyakan kantor pemerintah memiliki kantor regional untuk melayani provinsi-provinsi di dalamnya. Wilayah ini tidak memiliki pemerintahan lokal yang terpisah, kecuali Mindanao Muslim dan Wilayah Administratif Cordillera, yang memiliki otonomi sendiri.
Tabel 8. Pembagian Wilayah Administratif Filipina
Sumber : id.wikipedia.org

a. Kondisi Sosial
v  Kepadatan penduduk
Masalah kepadatan penduduk yang tinggi beserta masalah-masalah lain yang timbul akibatnya menyebabkan kemajuan Negara Filipina terhambat. Sebab, dengan adanya kepadatan penduduk disertai distribusi penduduk ang tidak merata, maka untuk mencapai kesejahteraan masyarakat membutuhkan proses yang cukup lama. Sehingga, saat ini pemerintah (atas dukungan Amerika) menggalakkan program Keluarga Berencana (KB) serta pembagian alat kontrasepsi bagi penduduk usia subur di Filipina guna mencegah terjadinya peningkatan jumlah penduduk. Namun, kebijakan ini mendapat pertentangan dari pihak gereja khatolik di Negara tersebut. Sebab, hal tersebut dirasa melanggar kehendak Tuhan dan perintah Tuhan untuk memiliki keturunan sebanyak-banyaknya.
v  Pendidikan
Dari segi pendidikan, penduduk di Filipina sudah cukup maju meskipun masih terdapat beberapa kelompok yang buta huruf. Namun, seperti Negara berkembang lainnya, pembangunan gedung-gedung sekolah dan sarana prasarana pendidikan masih kurang intensif. Menurut United Nation Development Program (UNDP, 2004), kualitas pendidikan di Filipina berada di urutan keempat setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Namun, masih terdapat beberapa masalah dalam sistem pendidikan yang ada.
Amerika sebagai mantan penjajah Filipina, memiliki pengaruh besar bagi perkembangan bangsa Filipina. Amerika melakukan berbagai perubahan signifikan bagi Filipina. Sistem pendidikan dan demokrasi dibangun, bahasa Inggris menjadi bahasa nasional, sistem administrasi publik dibuat serta berbagai transformasi “American way“ lainnya dikembangkan ke masyarakat Filipina. Namun, menurut Constantino (1974), sistem pendidikan yang diajarkan oleh Amerika adalah “mis-education” bagi bangsa Filipina. Pendidikan Amerika membuat de-Filipinanisasi bagi generasi mudanya. Mereka menempatkan kultur, nilai, gaya hidup Amerika sebagai ukuran superior yang harus dirujuk. Cerita tentang kejayaan kepahlawan Amerika serta keunggulan institusi Amerika mengobsesi generasi muda, menempatkan model “American society“ sebagai bentuk ideal bagi kehidupan masyarakat Filipina. Hasil akhirnya, Filipina menjadi pasar yang bersahabat bagi membajirnya produk-produk “made in America”. Dampak dari mis-education inilah yang menjadi problem besar bagi Filipina dewasa ini.
v  Lingkungan
Masalah lingkungan banyak terjadi di Filipina terutama masalah polusi udara, pencemaran air, degradasi hutan, erosi tanah akibat pembangunan, dan adanya kerusakan biota laut seperti koral yang sudah parah. Kepadatan penduduk yang tinggi menyebabkan masalah lingkungan semakin banyak. Pola hidup sebagian besar penduduk Filipina masih apatis terhadap lingkungan dan upaya pelestariannya. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, apabila tidak ada peningkatan kualitas di sector lingkungan, maka degradasi lingkungan akan semakin meningkat dan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat itu sendiri.
v  Suku/etnis
Tiga kelompok minoritas terbesar asing adalah orang Tionghoa, Amerika, dan Asia Selatan. Sisanya adalah orang-orang Eropa, Arab, Indonesia, Korea, dan Jepang. Orang-orang Mestizo adalah minoritas sebesar 1-2% yang berpengaruh. Dalam penelitian dari Universitas Stanford, ditemukan bahwa 3,6% populasi memiliki turunan dari bangsa Eropa. Hal tersebut menyebabkan angka migrasi masuk di Filipina mengalami peningkatan pasca kemerdekaan Filipina. Sehingga, tingkat prtumbuhan penduduk mengalami peningkatan, terutama pada tahun 2008.
v  Agama
Penduduk Filipina mayoritas beragama Katolik 80%, hal ini disebabkan Filipina merupakan bekas jajahan Spanyol, dilanjutkan dengan Protestan 10%, hal ini karena Filipina dijajah Amerika Serikat, dilanjutkan dengan Islam 5% yang mayoritas berada di Pulau Mindanao, lalu Buddha 2.5% yang merupakan penduduk pendatang dari Korea Selatan, Republik Rakyat China, Malaysia, Singapura, Jepang, India, dan Vietnam. Sebanyak 0.4% menyatakan dirinya Atheis dan 2.1% beragama lain.
Di beberapa sumber tertentu, terutama mengenai  data kependudukan, tidak mencantumkan data penduduk selain agama Katholik, terutama muslim. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh Amerika terhadap ketidaksetujuannya atas pemisahan kekuasaan penduduk Muslim di wilayah utara. Sebab, banyak terjadi kesenjangan dan diskriminasi pemerintah terhadap penduduk muslim.
v  Pertahanan dan Keamanan
Filipina termasuk dalam urutan 56 Negara Gagal yang dirilis oleh organisasi Fund for Peace akibat buruknya kualitas pertahanan dan keamanan di Negara tersebut dengan nilai 8,4. Nilai tersebut mendekati angka 10 yang berarti kualitas dalam hal tersebut sudah kritis. Banyak terjadi kerusuhan, demo, dan juga konflik antar penduduk baik dalam masalah agama maupun penolakan terhadap kebijakan pemerintah. Pemerintahan Filipina dianggap kurang memiliki kewenangan dan kemampuan dalam menangani hal tersebut. penduduk menganggap pemerintahan tunduk kepada Amerika. Banyaknya jumlah penduduk disertai kepadatan penduduk yang tinggi dan heterogen menimbulkan kesempatan konflik yang besar. Apabila tidak ditangani secara serius, gerakan separatisme akan semakin gencar dilakukan.
b.      Ekonomi
Ekonomi Filipina merupakan keempat terbesar di Asia Tenggara dan ketiga puluh enam didunia berdasarkan PDB. Filipina menganut sistem ekonomi campuran dengan industri utama bergerak pada bidang pengelolaahan makanan, tekstil, elektronik, dan otomotif. Pusat industri utama bergerak pada bidang pengolahan makanan, tekstil, elektronik dan otomotif. Pusat industri umumnya berada di daerah Metro Manila dan Metro Cebu. Agrikultur masih memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi di Filipina. Amerika Serikat dan Jepang telah menjadi mitra ekspor utama Filipina. Selain itu, RRC, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan dan Jerman juga menjadi mitra ekspor terbesar Filipina. Sebagian besar ekspor berupa barang komponen elektronik dan semi konduktor, disamping itu hasil alam seperti gas alam, minyak kelapa dan buah - buahan menjadi andalan utama bidang ekspor hasil alam. Filipina tergabung dalam beberapa forum ekonomi internasional seperti ASEAN, WTO dan APEC.
Jumlah penduduk Filipina yang banyak sudah mulai dikelola dengan baik oleh pemerintah, meskipun membutuhkan proses yang tidak singkat. Kondisi SDA tiap wilayah yang heterogen juga mulai dioptimalkan, sehingga kegiatan eksport semakin berkembang.

3.  Kaitan pola penduduk dengan Teori-teori Kependudukan
Berdasarkan deskripsi pola penduduk di Negara Filipina, dapat disimpulkan bahwa baik tingkat kelahiran maupun kematian serta pertumbuhan penduduk cenderung menurun dari tahun ke tahun. Pola tersebut berkaitan pula dengan kondisi sosial ekonomi Negara tersebut. apabila dikaitkan dengan Teori Malthus yang menyatakan bahwa pertambahan penduduk memiliki laju yang lebih cepat daripada pertumbuhan bahan makanan (pertumbuhan penduduk seperti deret ukur dan makanan seperti deret hitung), maka teori tersebut kurang tepat. Ia juga mengatakan bahwa manusia seperti binatang dan tumbuhan yang apabila tidak ada pembatasan akan berkembang biak dengan cepat  dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian di permukaan bumi ini. Pernyataan tersebut sudah tidak cocok bagi Filipina apabila melihat dari pola fertilitas, mortalitas, dan pertumbuhan penduduk yang cenderung menurun kian tahunnya.
Menurunnya tingkat fertilitas, mortalitas, dan pertumbuhan penduduk dapat disebabkan oleh adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Adanya perkembangan teknologi serta peningkatan kualitas pendidikan di Filipina dapat mempengaruhi penurunan tingkat fertilitas, mortalitas dan pertumbuhan penduduk. Hal ini justru sangat sesuai dengan teori-teori baru yaitu Teori Fisiologi dan Sosial Ekonomi serta Teori Teknologi.
Teori Fisiologi yang diungkapkan oleh John Stuart Mill memandang bahwa pada situasi tertentu, manusia dapat mempengaruhi perilaku demografinya, termasuk dalam hal kelahiran yang dianggap sebagai determinan tingginya pertumbuhan penduduk suatu Negara. Mill juga mengatakan bahwa apabila produktivitas seseorang tinggi, ia cenderung ingin memiliki keluarga kecil dan fertilitas pun akan rendah/menurun. Oleh sebab itu, adanya peningkatan taraf hidup terutama dalam hal pendidikan, sosial, dan ekonomi merupakan determinan fertilitas.  
Mill juga mengungkapkan bahw tinggi rendahnya tingkat kelahiran ditentukan oleh manusia sendiri. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan dalam bidang pendidikan bagi semua golongan masyarakat, baik yang mampu maupun yang tidak mampu. Dengan adanya peningkatan mutu pendidikan yang dimiliki seseorang, maka ia akan empertimbangkan konsekuensi dari menambah jumlah anak. Sehingga, pola penduduk yang menurun di Filipina dapat ditimbulkan oleh adanya hal tersebut.
Teori lain yaitu Teori Teknologi yang mengatakan bahwa dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu untuk melipatgandakan produksi pertanian. Artinya, masalah kepadatan penduduk serta bertambahnya penduduk dalam jumlah besar tidak masalah, sebab manusia memiliki pengetahun dan didukung oleh teknologi cangguh untuk memproduksi bahan pangan dalam jumlah berlipat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Filipina pun tampak sedang mengupayakan hal tersebut. Negara ini sudah mulai maju dalam bidang pangan. Sehingga, pemenuhan kebutuhan pangan perlahan mulai dapat tercukupi.
Penurunan tingkat fertilitas, mortalitas, dan pertumbuhan penduduk menimbulkan adanya indikasi bahwa Filipina sedang menuju ke Negara Maju meskipun prosesnya masih panjang. Namun, tentu tidak hanya cukup dilihat dari pola penduduk saja, akan tetapi dilihat pula dari aspek lain seperti aspek sosial, ekonomi, budaya, dan hankam.



sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Philippines
CIA World Factbook
Biro Statistik Nasional Filipina (National Statistical Coordination Board of Philippinehttp://www.nscb.gov.ph/





0 comments:

Post a Comment

Pages